Page 136 - Ebook Penelitian Pendidikan
P. 136

harus  mempunyai   validitas  internal  dan  eksternal.  lnstrumen  yang
         mempunyai validitas internal atau rasional, hila kriteria yang ada dalam
         instrumen secara rasional (teoritis) telah mencerminkan  apa yang diukur.
         Jadi kriterianya  ada di dalam instrumen itu. Instrumen yang mempunyai
         validitas eksternal  bila kriteria di dalam instrumen  disusun berdasarkan
         fakta-fakta  empiris  yang telah ada. Kalau validitas  internal  instrumen
         dikembangkan   menurut  teori  yang  relevan,  maka  validitas  eksternal
         instrumen  dikembangkan  dari fakta empiris.  Misalnya  akan mengukur
         kinerja (performance)  sekelompok pegawai, maka tolak ukur (kriteria) yang
         digunakan didasarkan pada tolok ukur yang telah ditetapkan di kepegawaian
         itu. Sedangkan  validitas  internal dikembangkan  dari teori-teori  tentang
         kinerja. Untuk itu penyusunan  instrumen yang baik harus memperhatikan
         teori dan fakta di lapangan.
            Penelitian yang mempunyai validitas internal, bila data yang dihasilkan
         merupakan fungsi dari rancangan dan instrumen yang digunakan. Instrumen
         tentang  kepemimpinan  akan menghasilkan  data kepemimpinan,   bukan
         motivasi.  Penelitian  yang  mempunyai  validitas  eksternal  bila,  hasil
         penelitian dapat diterapkan pada sampel yang lain, atau hasil penelitian itu
         dapat digeneralisasikan.
         Validitas  internal instrumen yang berupa test harus memenuhi construct
         validity (validitas konstruksi) dan content validity (validitas isi). Sedangkan
         untuk instrumen yang nontest yang digunakan untuk mengukur sikap cukup
         memenuhi   validitas  konstruksi  (construct).  Sutrisno  Hadi  (1986)
         menyamakan construct validity sarna dengan logical validity atau validity by
         definition. Instrumen yang mernpunyai validitas konstruksi, jika instrurnen
         terse but dapat  digunakan  untuk mengukur  gejala  sesuai  dengan  yang
         didefinisikan.  Misalnya akan mengukur efektivitas organisasi, maka perlu
         didefinisikan  terlebih  dahulu apa itu efektifitas  organisasi.  Setelah  itu
         disiapkan instrumen yang digunakan untuk mengukur efektivitas organisasi
         sesuai dengan definisi yang telah dirumuskan itu. Untuk melahirkan definisi,
         maka diperlukan teori-teori. Dalarn hal ini Sutrisno Hadi rnenyatakan bahwa
         "bila bangunan teorinya sudah benar, rnaka hasil pengukuran dengan alat
         ukur (instrumen) yang berbasis pada teori itu sudah dipandang sebagai hasil
         yang valid.
















                                         123
   131   132   133   134   135   136   137   138   139   140   141