Page 245 - Ebook Penelitian Pendidikan
P. 245
l·~ )
C/J
~
>-
•...
<l)
«
C/J
..0 00
0
.:.::: >
((LL
;:::\
.•..... w-
I=: 001-
;:::\ co«
00...
I=:
~
53 z(/)
«t-
~ 0... II:
<l)
0... «<C
~ 000...
bJ) II:
c W
~ o,
>-.
;:::\
.•.....
,..::.::
~
~
( 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11
Urutan waktu observasi
Gambar 12.4 Hubungan antara tahap penelitian dengan waktu yang
diperlukan untuk observasi
Susan Stainback (1988) mengemukakan bahwa: interviewing provide the
researcher a means to gain a deeper understanding of how the participant
interpret a situation or phenomenon than can be gained through observation
alan. Jadi dengan wawancara, maka peneliti akan mengetahui hal-hal yang
lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterprestasikan situasi dan
fenomena yang terjadi, di mana hal ini tidak bisa ditemukan melalui
observasi.
Selanjutnya Esterberg (2002) menyatakan bahwa "interviewing is at
the heart of social research. If you look through almost any sociological
journal, you will find that much social research is based on interview, either
standardized or more in-depth". Interview merupakan hatinya penelitian
sosial. Bila anda lihat jurnal dalam ilmu sosiaI,i maka akan anda temui semua
penelitian sosial didasarkan pada interview, baik yang standar maupun yang
dalam.
Dalam penelitian kualitatif, sering menggabungkan teknik observasi
partisipatif dengan wawancara mendalam. Selama melakukan observasi,
peneliti juga melakukan interview kepada orang-orang ada di dalamnya.
232

