Page 76 - Ebook Penelitian Pendidikan
P. 76

sintesa antara variabel satu dengan variabel yang lain akan menghasilkan
           kerangka berfikir yang selanjutnya  dapat digunakan  untuk merumuskan
           hipotesis.
           7. Kerangka Berfikir
           Setelah  sintesa  atau  kesimpulan  semen tara  dapat  dirumuskan  maka
           selanjutnya  disusun kerangka berfikir. Kerangka berfikir yang dihasilkan
           dapat  berupa  kerangka  berfikir  yang  assosiatif/hubungan  maupun
           komparatif/perbandingan.  Kerangka berfikir assosiatif dapat menggunakan
           kalimat: jika begini maka akan begitu; jika komitmen kerja tinggi, maka
          produktivitas  lembaga akan tinggi pula atau jika pengawasan  dilakukan
           dengan baik (positif),  maka kebocoran anggaran akan berkurang (negatij).
           8. Hipotesis
           Berdasarkan  kerangka berfikir tersebut selanjutnya disusun hipotesis. Bila
           kerangka berfikir berbunyi "jika komitmen kerja tinggi, maka produktivitas
           lembaga akan tinggi",  maka hipotesisnya  berbunyi "ada hubungan yang
           positif dan signifikan antara komitmen kerja dengan produktivitas  kerja"
           Bila kerangka berfikir berbunyi "Karena lembaga A menggunakan teknologi
           tinggi, maka produktivitas  kerjanya lebih tinggi bila dibandingkan  dengan
           lembaga B yang teknologi kerjanya rendah," maka hipotesisnya  berbunyi
           "Terdapat perbedaan produktivitas kerja yang signifikan antara lembaga A
           dan B, atau produktivitas  kerja lembaga A lebih tinggi bila dibandingkan
           dengan lembaga B".
                Selanjutnya  Uma Sekaran (1992) mengemukakan   bahwa, kerangka
           berfikir yang baik, memuat hal-hal sebagai berikut:
              1. Variabel-variabel  yang akan diteliti harus dijelaskan.
              2.  Diskusi  dalam kerangka  berfikir harus dapat menunjukkan  dan
                  menjelaskan pertautan/hubungan  antar variabel yang diteliti, dan ada
                  teori yang mendasari.
              3.  Diskusi juga harus dapat menunjukkan  dan menjelaskan  apakah
                  hubungan antar variabel itu positif atau negatif, berbentuk simetris,
                  kausal atau interaktif (timbal balik).
              4.  Kerangka  berfikir  terse but selanjutnya  perlu dinyatakan  dalam
                  bentuk diagram (paradigma penelitian),  sehingga pihak lain dapat
                  memahami kerangka pikir yang dikemukakan dalam penelitian.
           F. Hipotesis

           Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian,
           setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Tetapi
           perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus merumuskan hipotesis.




                                           63
   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80   81