Page 226 - Ebook Penelitian Pendidikan
P. 226

E. Teori dalam penelitian kualitatif

          Semua penelitian  bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti  harus
          berbekal teori. Dalam penelitian  kuantitatif,  teori yang digunakan  harus
          sudah jelas, karena teori di sini akan berfungsi untuk memperjelas masalah
          yang diteliti,  sebagai  dasar untuk merumuskan  hipotesis,  dan sebagai
          referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan
          teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang
          akan dipakai.
                 Dalam penelitian kualitatif, karena permasalahan  yang dibawa oleh
          peneliti  masih  bersifat  semen tara, maka teori yang digunakan  dalam
          penyusunan proposal penelitian kualitatif juga masih bersifat sementara, dan
          akan berkembang  setelah peneliti memasuki lapangan atau konteks sosial.
          Dalam kaitannya dengan teori, kalau dalam penelitian kuantitatif itu bersifat
          menguji hipotesis atau teori, sedangkan dalam penelitian kualitatif bersifat
          menemukan teori.
                 Dalam penelitian  kuantitatif jurnlah teori yang digunakan  sesuai
          dengan jumlah variabel yang diteliti, sedangkan dalam penelitian kualitatif
          yang bersifat holistik, jumlah teori yang harus dimiliki oleh peneliti kualitatif
          jauh  lebih  banyak  karena  harus  disesuaikan  dengan  fenomena  yang
          berkembang  di lapangan. Peneliti kualitatif akan lebih profesional  kalau
          menguasai semua teori sehingga wawasannya akan menjadi lebih luas, dan
          dapat menjadi instrumen penelitian yang baik. Teori bagi peneliti kualitatif
          akan berfungsi sebagai bekal untuk bisa memahami konteks sosial secara
          lebih luas dan mendalam.   Walaupun  peneliti  kualitatif  dituntut  untuk
          menguasai  teori yang luas dan mendalam,  namun dalam melaksanakan
          penelitian kualitatif, peneliti kualitatif harus mampu melepaskan teori yang
          dimiliki tersebut dan tidak digunakan sebagai panduan  untuk menyusun
          instrumen dan sebagai panduan untuk wawancara, dan observasi. Peneliti
          kualitatif dituntut dapat menggali data berdasarkan  apa yang diucapkan,
          dirasakan, dan dilakukan oleh partisipan atau sumber data. Peneliti kualitatif
          harus bersifat "perspektif  emic" artinya memperoleh data bukan "sebagai
          mana seharusnya",  bukan berdasarkan  apa yang difikirkan  oleh peneliti,
          tetapi berdasarkan  sebagaimana  adanya yang terjadi di lapangan,  yang
          dialami, dirasakan, dan difikirkan oleh partisipan/sumber  data.
                 Oleh karena itu penelitian kualitatif jauh lebih sulit dari penelitian
          kuantitatif, karena peneliti kualitatif harus berbekal teori yang luas sehingga
          mampu menjadi "human instrumen" yang baik. Dalam hal ini Borg and Gall
          1988 menyatakan bahwa "Qualitative research is much more difficult to do
          well than quantitative  research because the data collected  are usually
          subjective  and the main measurement  tool for  collecting  data is the
          investigator  himself".  Penelitian  kualitatif lebih sulit bila dibandingkan


                                          213
   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231